Tampilkan postingan dengan label Puisi dan Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi dan Resensi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Februari 2010

Cinta Untuk Sahabat

Beribu hari kulewati bersama denganmu..

Tak perduli sengatan matahari yang panas dan membakar raga ini..

Bagiku,,hanya kau yang mampu menyejukkan hari-hariku..

Dan mampu membekukan segala amarahku..

Walau hati ini pernah tersakiti olehmu,

Namun,, rasa sayang ini membuatku luluh dan memaafkan segala kesalahanmu..

Perbedaan dan kekurangan yang kita miliki,,

Serasa lenyap karena keceriaan dan keindahan yang tecipta dalam persahabatan kita..

Mungkin, aku memang bukan siapa-siapa..

Hanya seorang sahabat yang selalu menyayangimu selagi ku mampu,,

Hanya seorang teman yang ada di sampingmu saat bahagia,,

Dan selalu setia menemani saat kau sedang lara,,

Ku berharap persahabatan ini akan terus berlanjut dan selalu memberikan warna dalam hidupku

Selasa, 05 Januari 2010

PERSAHABATAN


Apa arti persahabatan?

Apa hanya sekedar berbagi tawa dan canda?

Ada di saat suka

Tersenyum disaat gembira

Tertawa di saat semua terasa indah?



Atau ...

persahabatan ada di saat membutuhkan

Hadir dikala sepi menghantui

Memberi semangat disaat jatuh dan tak mampu untuk bangkit

Dan selalu menghibur disaat kau tak mampu menghapus air matamu..




Aku harap persahabatanku saat ini seperti yang kuharapkan,

Dan akan selalu ada di hatiku walau aku telah terlupakan olehnya..
Jujur..

Jujur..

Mungkin kata itu sulit untuk dikatakan oleh sedikit orang

Walaupun jujur itu menyakitkan

mengecewakan..

membuat luka di hati..

Namun, jujur itu lebih baik.

daripada menutupi diri dari kenyataan yang ada.




Maka berusahalah untuk jujur,

Jangan membohongi hati dan perasaan mu sendiri..

Selasa, 29 Desember 2009

Untitled



Andai waktu dapat bergulir ke masa lalu,

Aku hanya ingin kita tak bertemu,

Biar tak ada lagi hati yang tersakiti,

Biar aku tidak merasakan betapa perihnya kehilangan cinta sejati,



Ku fikir, kau adalah tambatan hati yang selama ini aku cari,

Mengenangmu, mencintaimu hingga ku terlena dalam dekapanmu,

Namun ternyata, semua ini hanya anganku yang tak bisa ku gapai,

Semua yang ku harapkan dan ku beri hanya sia-sia bagimu,



Andai kau tau betapa aku menginginkan kau selalu ada disampingku,

Menenangkanku di saat kesedihan menerpaku,

Menjagaku disaat mentari tenggelam dalam gelapnya malam,

Namun, itu semua hanya hayalku,

Yang tidak akan pernah terjadi,

Dan tidak akan pernah merubah semua yang ada pada dirimu,



Meskipun kau selalu menyakiti dan mengecewakan hati ini,

Tapi, aku bisa memberikan maafku padamu,

Tidak tahu kenapa,,

Mungkin karena hati ini telah tertuju padamu

Dan hati ini telah memilihmu,

Walaupun tiada lagi ruang di hatimu yang ada hanya untukku

Jumat, 11 Desember 2009

Resensi PINTU - Kisah pria yang memiliki “mata ke tiga”

Resensi PINTU - Kisah pria yang memiliki “mata ke tiga”


Judul : PINTU
Pengarang : Fira Basuki
Editor : A.Ariobimo Nusantara
Penerbit : PT Grasindo – Jakarta
Tanggal – tahun terbit : Juli – 2004


Kelahiran Bowo sebagai anak “kuning” yang menurut kepercayaan adalah anak titisan nenek moyang merupakan suatu anugerah bagi orangtuanya. Bagaimana tidak, Bowo adalah anak yang pintar dan sejak kecil, dia memiliki “mata ketiga”, yaitu dapat melihat sesuatu yang gaib dan bisa membaca aura orang-orang di sekitarnya. Tidak heran jika Bowo memiliki teman gaib yang di berinya nama “Jeliteng”, jin kecil yang usianya 10 kali lipat dari tubuh aslinya. Namun, sejak kelahiran adiknya, Bowo menjadi anak yang merasa kurang diperhatikan oleh orangtuanya.Bowo mulai nakal dan sering membuat ulah disekolahnya Namun, sejak adiknya, June, menolongnya pada saat perayaan natal di sekolahnya, Bowo menjadi baik terhadapnya.

Ketika masuk ke dunia perkuliahan, banyak sekali hal-hal yang Bowo tidak mengerti, mulai dari perjalanannya menuju Surabaya, yang membuat mata batinnya terbuka sehingga dia bisa menerapkan ilmunya di kehidupan sehari-hari sampai kepada penemuan istana atau rumah joglo yang gaib. Sempat terlibat aksi perkelahian, akhirnya Bowo pindah keluar negeri untuk bersekolah di sana bersama adiknya.

Sebelum Bowo pindah keluar negeri, Bowo memiliki kekasih yang bernama Putri, teman dari June. Namun sayangnya, setelah berada di luar negeri, Bowo seperti merasa kehilangan sosok Putri dan berusaha untuk mencari perempuan lain.

Judul yang di angkat dalam novel ini sangat unik, pertama kali membaca judul, pembaca akan merasa penasaran dan memiliki keinginan besar untuk membaca. Apalagi, penulis menyajikan sesuatu yang berbeda dari novel lainnya misalnya bagaimana penulis menceritakan silsilah keluarga dari Sunan Kalijaga, berbagai adat Jawa dan kepercayaannya, ini semua sangat menarik karena penulis berusaha untuk mengenalkan salah satu budaya Indonesia. Begitu pula dengan watak dari tokoh-tokoh yang ada dalam novel tersebut, seperti Bowo yang tidak pernah bosan mencari sesuatu yang baru, nakal dan cerdas , June (adik Bowo) yang cantik dan ceria, Yangti (Nenek Bowo) yang selalu memberi nasihat dan baik dan tokoh lainnya yang ada dalam novel tersebut. Dengan latar tempat yang berbeda-beda membuat pembaca tidak merasa bosan.

Namun, Sangat di sayangkan, dalam cerita ini, disebutkan bahwa Bowo tertarik dengan seorang gadis Indonesia yang juga sedang bersekolah disana. Dan melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama dan nilai-nilai budaya Timur. Kata-kata yang diuraikan oleh penulis agak kurang berkenan karena dalam cerita tersebut, terdapat kata-kata yang vital dan kurang baik jika dibaca oleh anak-anak yang belum dewasa. Lalu disebutkan pula bahwa Bowo bertemu dengan Paris yang membuatnya jatuh cinta. Dalam cerita ini disebutkan pula bahwa masih ada kepercayaan terhadap roh-roh yang sudah mati, dukun dan benda-benda yang dianggap keramat. Namun, penulis sangat telaten dalam menjelaskan kata-kata yang dianggap tabu oleh orang-orang awam. Penulis mendeskripsikan dengan baik suasana yang sedang terjadi sehingga membuat para pembaca mampu berimajinasi seperti layaknya ada dalam cerita itu.

Dalam cerita ini, penulis menggunakan alur campuran, ada disaat menceritakan pengalaman masa lalu Bowo dan menceritakan kejadian yang telah berlanjut. Dalam segi bahasa, penulis menggunakan bahasa yang komunikatif. Apalagi dengan sentuhan bahasa Jawa dan bahasa asing.

Kisah perjalanan cinta Bowo dalam pencarian kasih sejati adalah salah satu bagian yang cukup menarik. Bowo mencintai Paris yang telah memiliki suami, namun yang paling berkesan adalah ketika Paris meninggal. Kemudian beberapa hari kemudian, Bowo bertemu keluarga yang memiliki bayi mungil yang namanya mirip dengan kekasih lamanya itu, seakan-akan bayi itu adalah reinkarnasi dari Paris. Sangat menyentuh, kekasih sejati yang telah meninggal, kini berubah menjadi wujud seorang bayi.

Di akhir cerita, akhinya Bowo menikah dengan Aida, temannya sendiri. Namun, penulis tidak menceritakan lebih lanjut kehidupan antara Bowo, Aida dan Putri, sehingga ceritanya agak menggantung.
Namun,terlepas dari semua itu, novel ini adalah karya yang cukup memikat. Bahkan gaya dan cara pengungkapannya memberikan sentuhan sastra yang cukup enak untuk dinikmati oleh para pembaca. Semoga pada karya-karya Fira Basuki selanjutnya akan lebih menarik dan lebih menyentuh hati para pembaca. .