Kamis, 14 Januari 2010

Rindunya Kak Rindu


K Rindu,,

Kakak ku yang satu ini sering sekai buat ulah, selalu saja membuatku jengkel. Entahlah sepertinya dia ingin membuatku marah, tapi tenang saja, aku juga telah menyiapkan sesuatu untuk nya. Ya..sudah pasti membuat beribu kejailan untuknya..

“Ka, kakak dimana? Fari lagi di sekolah, bentar lagi pulang ko..”

“Kakak lagi di jalan,far, lagi beli bunga untuk teman kakak yang lagi sakit. Rencananya kakak akan menjenguk dia,far..”

“Lho? Sendiri? “

“Iya,, tenang ajha,,kakak ga papa ko, kakak kan wonder woman,,hehehe..”

Aku hanya mengengguk saja ketika dia menutup handphone nya, dialah satu-satunya kakak ku yang aku sayangi. Maklum kami hanya dua bersaudara. Sepasang pula, aku Gibran Al-gifari dan kakakku Rindu Salsabila. Kami terpaut 7 tahun,aku masih duduk di bangku SMP kelas 2 dan kakak ku melanjutkan S1 Akuntansi nya, ehm..kira-kira semester 4. Aku bangga dengan kakak ku. Tiap semester dia selalu mendapat beasiswa dari kampusnya, kadang-kadang aku mencuri melihat nilai IPK nya, hampir 4, Aku pun tak mengerti, apa itu IPK kata kakak itu Indeks Prestasi Kumulatif, aku meangguk-angguk saja, walaupun agak kurang mengerti. Hahaha..

Sebentar lagi aku pulang, ya..memang rumah kami tidak jauh dari rumah hanya naik angkutan umum sekali. Dan bummmm…sampe deh..hehehe..

Baru aku membuka pintu rumah, telepon rumahku bordering, aku langsung mengangkat gagang teleponnya dan..

“Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam, apa betul ini rumah Rindu Salsabila?”

“Iya, betul, itu kakak saya,ada apa ya?”

“Kakak anda sekarang ada di Rumah Sakit Harapah Jaya di kamar Melati.”

Ada apa dengan dia?”

“Saya tidak bisa ceritakan di telepon, sebaiknya anda dan keluarga kesini secepatnya”

Aku pun menutup telepon itu, belum sempat aku mengganti seragam putih biruku, aku langsung beritahu ibu dan ayah.

Sesampainya dirumah sakit, aku menangis..Tidak tahan melihat kakak yang terbaring di tempat tidur dengan banyak selang di tangannya. Bantuan pernafasan juga dikenakan di sekitar wajahnya.

Aku jatuh, tak tau harus berbuat apa. Tiba-tiba ada seorang laki-laki muda yang menghampiriku, dan mengajakku untuk duduk sementara ayah dan ibu belum tiba..

“Kamu adiknya Rindu?”

Dengan wajah yang penuh air mata, aku menjawab, “iya, saya adiknya. Ada apa dengan K Rindu, ka?”

“Saya melihat kakakmu kecelakaan, di tabrak oleh bus umum pada saat kakakmu ingin menyebrang jalan, dia membawa seikat bunga pula. Saya sempat tak tau harus berbuat apa, karena kakakmu terpelanting jauh dan kepalanya terbentur batu besar di pinggir jalan. Saya tak tau apa dia bisa selamat, karena dokter bilang, otak kiri dan kanan hampir tidak berfungsi,mungkin dikarenakan terlempar jauh dan terbentur batu. Maaf, saya tidak bisa berbuat banyak juga.”

“Tidak apa,k,justru saya berterimakasih sekali kakak telah membawa kakak saya ke sini” jawabku singkat.

Hampir tidak percaya aku, padahal sebelum aku pulang aku sempat menelpon dia. Memang ada sekelebat pertanyaan dipikiranku, mengapa aku mau menelponnya,biasanya kakak yang selalu menelon duluan.

Aku hanya bisa melihat kakak,, menangis disampingnya.

“K,kakak harus kuat, fari yakin,kakak kuat. Kakak adalah kakak fari satu-satunya. Fari mau sama kakak. Melewati hari-hari fari sama kakak, becanda bareng lagi sama kakak, iseng sama kakak, semua itu asyik dibandingkan fari bersama teman-teman. K, fari mohon, bertahan!” sambil menetekan air mata, aku menggenggam tangan kak Rindu yang begitu lemah, aku hanya mencium tangannya dan melihat wajah manisnya yang penuh luka baret.

Tak lama kemudian, kakak muda yang menolong kak Rindu datang kembali dan menyerahkan handphone kakak yang sudah agak rusak kepadaku, katanya handphone kakak ikut terjatuh juga namun masih berfungsi , dari handphone itu kakak muda itu menelpon rumahku.

Akupun keluar untuk membiarkan kakak istirahat, aku pun membaca sms dari draftnya, biasanya banyak anak perempuan sekelasku yang menulis isi curhatannya di draft.

“Hari ini hari jadianku, sudah satu tahun lamanya aku menjalin hubungan dengannya. Siapa lagi kalau bukan si Hide, ya…sebenarnya bukan Hide namanya, nama itu aku ambil dari bahasa Inggris, ya..begitulah adanya. Habis, dia tidak pernah mau bertemu dengan ku, ya aku namakan saja dengan Bersembunyi..hahaha..”

“Ah…akhirnya tugas kuliah selesai juga,,aku kangen banget sama dia.. Kapan ya,,aku bisa bertemu dan melihat wajahnya.. Dari awal pacaran, aku belum pernah melihat nya, tapi, entah mengapa aku percaya saja dengan dia..hahaha,,,bodoh juga aku..”

Baru dua sms di draft yang aku baca, aku teringat Kak Arga Andana. Kakak memang sering juga menceritakan dia. Tapi, aku belum pernah melihat batang hidungnya.. Main ke rumahpun belum pernah. Aku juga ga tau kenapa, kakak bisa pacaran jarak jauh begitu. Aku belum mengerti soal perasaan, maklum kata ayah, aku harus sudah bekerja dulu kalau mau bicara soal perasaan ^-^

Memang, sudah genap dua tahun dia pacaran dengan Kak Arga, tapi belum pernah Kak Arga menemuinya. Entahlah apa yang ada dibenak K Arga, tega sekali dia membiarkan kakakku yang manis ini menunggu hingga bertahun-tahun. Aku juga tidak mengerti jalan pikiran kakak, kenapa kakak masih saja setia menunggunya yang bahkan kita tidak tahu rupanya seperti apa. Kakak setia menunggu, sementara dia nunjauh disana, belum tentu merasakan hal yang sama dengan kakak.

Pernah suatu kali kakak berkata padaku,,

“ Far, ehm…kamu tau Kak Arga yang sering kk ceritakan ke kamu,kan?”

Aku hanya mengangguk waktu itu,lalu kakak melanjutkan ceritanya.

“Iya,, kapan ya aku bisa melihat wajahnya, sekali saja.. Sekali. Aku takut, aku tidak bisa melihatnya lagi nanti. Kamu tau ga,far, kakak sangat ingin bertemu sama dia. Boleh dibilang rindu setengah mati. Bagaimana tidak, kakak belum pernah bertemu, far, mungkin dia akan baru menemui kakak kalau kakak udah sekarat di rumah sakit kali ya… hehehehe..”

“Lho? Ko kakak ngomong gitu? Ga baik,kak”

“ Habis … saat kakak sehat ga kurang satu apapun, dia ga mau melihat kakak, mungkin kalau kakak sakit keras, dia iba dan langsung menemui kakak. Nah..mungkin saja kakak bisa sembuh… ya,kan?” sambil tersenyum,kakak melontarkan kata-kata itu.

Aku hanya menggeleng kepala melihat sikap kakak, seperti anak kecil, tapi..itu yang aku suka dari kakak.. Ceria, pintar menutupi kesedihannya. O iya,aku baru tau,, mungkin saja Kak Arga bisa menyadarkan kakak dari tidur panjangnya..

Ku coba telepon Kak Arga,

“ Halo, ini Ka Arga?”

“Ini siapa? Rindu?”

“bukan ini adiknya Fari, kak bisa kita ketemu?”

“Ehm..maaf Fari,,kakak ga bisa ketemu kamu”

“kenapa?!!!!!!!” jawabku dengan nada tinggi.

“Hei….yang sopan kalau bicara, saya ini lebih tua dari kamu..!”

“ Kamu!! Kamu yang membuat kakakku jadi seperti ini, kamu tau? Kakak dirawat di Rumah Sakit, dan asal kamu tau, kakak selalu memikirkan kamu, kak Rindu rindu dengan kamu. Kenapa kamu mempermainkan hatinya dia..?” kataku sambil menitikkan air mata..

K Arga diam..hening.. lalu aku melanjutkan kata-kataku.

“kenapa diam?!!! Kamu tau seberapa setia nya kakak ku sama kamu?! Dia selalu memimpikan bertemu dengan kamu, berandai-andai jika kak Rindu ketemu dengan kamu, ada kerinduan yang mendalam di hati Kak Rindu. Setega itu kah orang yang kakakku sayangi sampai dia sekaratpun, dia tidak akan muncul dihadapannya hanya untuk yang pertama dan terakhir kalinya sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya. Apa si yang ada di pikiran kamu, sampai kamu tega menggantungkan semua angan-angan kakakku yang tidak mampu kamu penuhi!!! Janji-janji kamu dengan Kak Rindu yang tidak akan pernah bisa ditepati. Ku mohon, hanya sekali saja…!!sekali saja Kakak melihat kamu. Beri kakak kesempatan di hari terakhirnya. Aku mohon. Kakak sangat sayang dengan K Arga. Kenapa kakak tidak pernah peduli ?!! kenapa!!!!!!!!”

Aku sangat kesal dengan lelaki pengecut itu, dia diam tak bergeming, tanpa suara,benar-benar hening.

Lalu aku langsung bertanya kepadanya lagi.

“ Belum puas kamu menyiksa batin kakak? Kalau kamu memang lelaki sejati dan bertanggung jawab, temui kakak dan aku di Rumah Sakit Harapan Jaya. “ kataku singkat sambil menutup teleponnya.

Tiba-tiba, handphone kakak bordering, ada pesan masuk disini, lalu aku pun membacanya.

“ Maaf, aku tidak bisa kesana. Aku… Aku merasa waktunya belum tepat dan aku belum siap untuk bertemu dengan Rindu, aku sangat sayang pada Rindu, tapi..aku punya alasan lain mengapa aku tidak mau bertemu Rindu selama ini. Aku harap kamu mengerti.”

Seperti petir yang menyambar, kata-kata itu membuat ku lemas tak berdaya. Kasian kakak, aku tau keinginannya. Tapi, sepertinya aku tidak bisa memenuhi nya,K ..Maafkan aku.

********

Di satu sisi, aku memang ingin bertemu dengan Rindu, disisi lain, aku merasa belum pantas dengan Rindu. Aku tidak tahu alasan apa yang membuatku enggan bertemu dengannya. Walau …rasanya aku juga merasakan hal yang sama, tapi……….. Aku belum pantas bertemu Rindu..

Sekelebat, bayangan Rindu menjelma.. Tersenyum padaku dan berusaha mengajakku untuk menemui nya di Rumah Sakit. Rindu….aku tidak bisa.

Maafkan aku yang telah mengecewakanmu.

********

Kakakku makin sekarat, ayah dan ibu sudah datang sejak 3 jam yang lalu, dan kak Arga belum juga datang..

Banyak orang yang menjenguknya, namun, hanya dapat melihatnya diluar. Banyak yang menangis dan memberikan doa pada kakak. Teman-temannya, dosen, bahkan teman SMA dan SMP nya datang kesini demi kakakku, Rindu .

Dua jam telah berlalu,, benar-benar tidak punya hati orang itu. Membiarkan rasa penasaran yang teramat sangat pada kakakku. Aku hanya berdoa, semoga kakak bisa kembali di sini,keluarga kita,kak. Dan aku bisa melewati hari-hari bersama kakak lagi.

Dokterpun datang dan masuk dengan siaga. Gorden kamar kakak ditutup, entahlah dokter itu sedang melakukan apa, yang jelas, dokter itu akan melakukan semampunya untuk menolong kakak.

*********

Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi,,Memang aku tidak punya hati. Membiarkan dia yang selalu menemani hari-hariku walau lewat telepon dan sms, namun, dia sangat berarti bagiku. Dialah yang mengerti dan selalu membuatku tertawa disaat masalah datang padaku.

Tega kah aku membiarkan rindunya padaku dipendam bersama dengan jasadnya nanti..

Rindu…tunggu aku, aku pasti akan datang….

**********

Dokter telah selesai memeriksa kakak, dan jawabannya sungguh mengkhawatirkan. Kata dokter, mungkin kakak hanya bisa bertahan 5 menit lagi. Menunggu apa yang sedang ditunggunya.

Itu berarti,,lima menit lagi, aku akan kehilangan orang yang sangat aku sayangi. Aku berjanji dalam hatiku, aku akan seperti kakak, pintar dan tidak mengecewakan orang tua. Aku sayang sama kakak.

Di saat aku menangis dan tak tau harus berbuat apa, sesosok laki-laki muda muncul dari kejauhan. Tidak tau siapa, namun.. sepertinya tidak asing bagiku..

Kutatap kearah arlojiku, sudah hampir lima menit berlalu. Aku pun tidk memperdulikan orang itu, aku dan keluargaku yang hanya boleh masuk. Kami berdoa dan mengikhlaskan kepergian kakak yang ternyata memang sudah tidak ada di sini lagi.

Aku pegang tangannya.. Meminta maaf, dan berdoa untuknya.. Begitu juga orangtuaku yang sangat terpukul dengan kejadian ini. Jasad nya ditutup dengan selimut. Dan kami keluar dari kamarnya.

Laki-laki tadi meoleh kepadaku, tinggi dan bersih kulitnya, dia bertanya padaku,

“ bagaimana keadaan Rindu?”

“Dia sudah tidak ada”

Laki-laki itu menangis dan berkata padaku,

“Aku menyesal…….. Aku belum melihat wajahnya saat dia masih disini, aku Arga, yang selama ini dia cari”

Dengan wajah kesal, aku pun mengusirnya, namun, dicegah oleh kedua orangtuaku. Lelaki itu masuk ke kamar kakak.

“ Rindu,aku tau, aku pasti sangat mengecewakanmu. Aku sangat sayang sama kamu, melebihi siapapun didunia ini. Hanya kamu yang mengerti aku. Rindu, ijinkan aku untuk melihatmu kembali agar aku bisa mencium tanganmu. Meminta maaf dan berusaha untuk membahagiakanmu disisiku. Rindu, jangan tinggalkan aku sendiri. Aku tak mau kehilanganmu. Rindu, tolong aku, aku sangat ingin bertemu denganmu. Rindu… bangun…!!”

Melihat Kak Arga yang menggoncang-goncangkan tubuh kakak, aku langsung masuk kedalam kamar dan melarangnya..

“ Jangan sentuh kakakku dengan keegoisan kamu. Percuma kamu menjanjikan hal-hal yang indah pada kakak, itu semua tidak akan pernah merubah takdir. Sekarang kakak sudah tidak ada, puas kamu? Puas? Sekarang tinggalkan kakak, tinggalkan keluarga aku dan jangan pernah kembali kesini lagi. Ingat itu, K Arga”

Dia berjalan,menghapus air matanya, menghapus kenangannya saat bersama kakak. Menghapus semuanya. Biarlah..mungkin ini memang harus terjadi. Agar aku leibh bisa mengerti, apa arti dari sayang dan arti dari sebuah kerinduan, karena aku tau rindunya Kak Rindu tidak akan pernah hilang padanya.