Jumat, 11 Desember 2009

Resensi PINTU - Kisah pria yang memiliki “mata ke tiga”

Resensi PINTU - Kisah pria yang memiliki “mata ke tiga”


Judul : PINTU
Pengarang : Fira Basuki
Editor : A.Ariobimo Nusantara
Penerbit : PT Grasindo – Jakarta
Tanggal – tahun terbit : Juli – 2004


Kelahiran Bowo sebagai anak “kuning” yang menurut kepercayaan adalah anak titisan nenek moyang merupakan suatu anugerah bagi orangtuanya. Bagaimana tidak, Bowo adalah anak yang pintar dan sejak kecil, dia memiliki “mata ketiga”, yaitu dapat melihat sesuatu yang gaib dan bisa membaca aura orang-orang di sekitarnya. Tidak heran jika Bowo memiliki teman gaib yang di berinya nama “Jeliteng”, jin kecil yang usianya 10 kali lipat dari tubuh aslinya. Namun, sejak kelahiran adiknya, Bowo menjadi anak yang merasa kurang diperhatikan oleh orangtuanya.Bowo mulai nakal dan sering membuat ulah disekolahnya Namun, sejak adiknya, June, menolongnya pada saat perayaan natal di sekolahnya, Bowo menjadi baik terhadapnya.

Ketika masuk ke dunia perkuliahan, banyak sekali hal-hal yang Bowo tidak mengerti, mulai dari perjalanannya menuju Surabaya, yang membuat mata batinnya terbuka sehingga dia bisa menerapkan ilmunya di kehidupan sehari-hari sampai kepada penemuan istana atau rumah joglo yang gaib. Sempat terlibat aksi perkelahian, akhirnya Bowo pindah keluar negeri untuk bersekolah di sana bersama adiknya.

Sebelum Bowo pindah keluar negeri, Bowo memiliki kekasih yang bernama Putri, teman dari June. Namun sayangnya, setelah berada di luar negeri, Bowo seperti merasa kehilangan sosok Putri dan berusaha untuk mencari perempuan lain.

Judul yang di angkat dalam novel ini sangat unik, pertama kali membaca judul, pembaca akan merasa penasaran dan memiliki keinginan besar untuk membaca. Apalagi, penulis menyajikan sesuatu yang berbeda dari novel lainnya misalnya bagaimana penulis menceritakan silsilah keluarga dari Sunan Kalijaga, berbagai adat Jawa dan kepercayaannya, ini semua sangat menarik karena penulis berusaha untuk mengenalkan salah satu budaya Indonesia. Begitu pula dengan watak dari tokoh-tokoh yang ada dalam novel tersebut, seperti Bowo yang tidak pernah bosan mencari sesuatu yang baru, nakal dan cerdas , June (adik Bowo) yang cantik dan ceria, Yangti (Nenek Bowo) yang selalu memberi nasihat dan baik dan tokoh lainnya yang ada dalam novel tersebut. Dengan latar tempat yang berbeda-beda membuat pembaca tidak merasa bosan.

Namun, Sangat di sayangkan, dalam cerita ini, disebutkan bahwa Bowo tertarik dengan seorang gadis Indonesia yang juga sedang bersekolah disana. Dan melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama dan nilai-nilai budaya Timur. Kata-kata yang diuraikan oleh penulis agak kurang berkenan karena dalam cerita tersebut, terdapat kata-kata yang vital dan kurang baik jika dibaca oleh anak-anak yang belum dewasa. Lalu disebutkan pula bahwa Bowo bertemu dengan Paris yang membuatnya jatuh cinta. Dalam cerita ini disebutkan pula bahwa masih ada kepercayaan terhadap roh-roh yang sudah mati, dukun dan benda-benda yang dianggap keramat. Namun, penulis sangat telaten dalam menjelaskan kata-kata yang dianggap tabu oleh orang-orang awam. Penulis mendeskripsikan dengan baik suasana yang sedang terjadi sehingga membuat para pembaca mampu berimajinasi seperti layaknya ada dalam cerita itu.

Dalam cerita ini, penulis menggunakan alur campuran, ada disaat menceritakan pengalaman masa lalu Bowo dan menceritakan kejadian yang telah berlanjut. Dalam segi bahasa, penulis menggunakan bahasa yang komunikatif. Apalagi dengan sentuhan bahasa Jawa dan bahasa asing.

Kisah perjalanan cinta Bowo dalam pencarian kasih sejati adalah salah satu bagian yang cukup menarik. Bowo mencintai Paris yang telah memiliki suami, namun yang paling berkesan adalah ketika Paris meninggal. Kemudian beberapa hari kemudian, Bowo bertemu keluarga yang memiliki bayi mungil yang namanya mirip dengan kekasih lamanya itu, seakan-akan bayi itu adalah reinkarnasi dari Paris. Sangat menyentuh, kekasih sejati yang telah meninggal, kini berubah menjadi wujud seorang bayi.

Di akhir cerita, akhinya Bowo menikah dengan Aida, temannya sendiri. Namun, penulis tidak menceritakan lebih lanjut kehidupan antara Bowo, Aida dan Putri, sehingga ceritanya agak menggantung.
Namun,terlepas dari semua itu, novel ini adalah karya yang cukup memikat. Bahkan gaya dan cara pengungkapannya memberikan sentuhan sastra yang cukup enak untuk dinikmati oleh para pembaca. Semoga pada karya-karya Fira Basuki selanjutnya akan lebih menarik dan lebih menyentuh hati para pembaca. .